tik... tik... tik...
saat itu, usiaku baru 9 bulan
aku masih dikandung oleh
seorang wanita yang luar biasa
yah, benar . . .
dialah ibuku . .
ibu yang aku punya
satu-satunya di dunia ini
yang telah bertarung melawan maut
keringat dan darah yang kau korbankan
demi terlahirnya aku ke dunia ini
dan saat itulah kisahku di mulai
ketika aku berumur 1 tahun
dia menyuapi dan memandikanku
sebagai balasannya . .
aku menangis sepanjang malam
ketika aku berumur 2 tahun
dia mengajariku cara berjalan
sebagai balasannya . .
aku kabur saat ia memanggilku
ketika aku berumur 4 tahun
dia memberiku pensil untuk mewarnai
sebagai balasannya . .
aku corat-coret dinding rumah
ketika aku berumur 7 tahun
dia memberikanku bola
sebagai balasannya . .
aku lemparkan bola ke jendela tetangga
ketika aku berumur 10 tahun
dia mengantarkanku ke mana saja
dari kolam renang sampai pesta ulang tahun
sebagai balasannya . .
aku bermain asyik dengan temanku
sehingga tak mendengar panggilan orang tuaku
ketika aku berumur 13 tahun
dia menyarankanku untuk memotong rambut
sebagai balasannya . .
aku bilang "Ibu tidak tahu mode"
ketika aku berumur 15 tahun
dia pulang kerja ingin memelukku
sebagai balasannya . .
aku kunci pintu kamarku
ketika aku berumur 18 tahun
dia menangis terharu ketika ku lulus SMA
sebagai balasannya . .
aku berpesta dengan teman-temanku
ketika aku berumur 19 tahun
dia membayar semua biaya kuliahmu
dan mengantarkanku ke kampus
sebagai balasannya . .
aku minta diturunkan jauh dari pintu gerbang
ketika aku berumur 20 tahun
dia bertanya "Dari mana saja seharian ini?"
sebagai balasannya . .
aku menjawab "Ah, cerewet banget sih"
dan saat ini . . .
dia sering memberiku nasehat
namun aku tak memperdulikannya
aku mengacuhkannya
saat ini . .
dia sering menghubungiku
untuk menanyakan kabarku
namun aku menjawab "aku sibuk, mah"
hingga dia jatuh sakit
dan memerlukan perawatanku
dan yang ku katakan . . .
"aku lagi banyak acara, mah"
dan . . .
hingga suatu hari . . .
aku mendapat kabar
bahwa ibuku telah meninggal dunia
dan tiba-tiba . . .
aku teringat semuanya
semua yang belum pernah
ku lakukan untuk ibuku
dan . . .
itu sangat menghantam hatiku
bagaikan pukulan yang sangat keras
saat itu . .
aku langsung pulang ke rumah
dengan tergesa-gesa
hingga aku sampai di depan rumah
dan . . .
ku buka pintu rumah yang telah lapuk
ku melihat ibuku yang telah terbujur kaku
yang telah terbungkus kain putih
hingga menutupi wajah senjanya
ibu . . .
maafkan aku . .
maafkan aku, mah . . .
maafkan aku . .

0 Response to "Renungan"
Post a Comment